Ketua Yayasan : Miris Melihat Kondisi Generasi Melenial Yang Abaikan Ekologi, Literasi & Spirit Kemaduraan

 

 

Sumenep (Stidar.ac.id)-Menyambut tahun pelajaran baru 2022/2023, dewan kepala satuan pendidikan Raudlatul Iman gelar rapat koordinasi di kediaman ketua yayasan (dhalem) bersama ketua bidang akademik dan kelembagaan, Kamis 08 Juli 2022.

 

Hadir kepala PAUD, RA, MI, MTs, MA, SMK, TKA-TPQ dan MDT Raudlatul Iman serta sekretaris umum Yayasan Raudlatul Iman untuk membahas isu-isu strategis dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada peserta didik, wali dan masyarakat.

 

Rapat yang dipimpin langsung Ketua Umum Yayasan Raudlatul Iman, Kiai Muhammad Sahli berjalan santai dan menarik. Salahsatu yang diangkat adalah isu lingkungan, literasi, kurikulum kemaduraan dll.

 

Kiai Sahli, sebagaimana kebiasaannya selalu melontarkan ide-ide baru dan gagasan fenomenal untuk merespon tuntutan kekinian.

 

“Saya tak bosan-bosan mengajak semuanya untuk selalu berinovasi dan menciptakan kebaruan dalam setiap gagasan dan tindakan. Tahun pelajaran ini kita harus lebih progresif lagi dengan memasukkan kurikulum kemaduraan yang terintegrasi dalam mata pelajaran. Karena saya miris, melihat generasi melenial saat ini yang mulai masa bodoh dan lupa pada waritsan luhur nenek moyang kita, akibat kemajuan teknologi. Anak lebih dekat dengan apa yang tersaji di internet daripada dunia sekitarnya” jelasnya penuh semangat.

 

Lebih lanjut beliau juga berharap agar kesadaran ekologis menjadi spirit warga Raudlatul Iman untuk memberikan contoh kepada masyarakat.

 

“Tahun ini juga perlu digalakkan kesadaran ekologis menyangkut pelestarian lingkungan sebagaimana program yayasan atau pondok pesantren yaitu “Pesantren Ramah Lingkungan”. Untuk hal ini lembaga akan bekerja sama dengan Aqua Community untuk meletakkan galon di setiap ruangan sebagai upaya pengendalian sampah plastik yang semakin memprihatinkan. Perlu juga warga sekolah diketuk kesadarannya untuk menjadi duta sampah. Bumi kita saat ini perlu pertolongan dan kita berdayakan lagi, sesuai ghiroh Echologial Character Building

 

Selain itu juga, beliau terus mengkampanyekan gairah literasi di kalangan guru maupun santri.

 

“Yang tak kalah pentingnya adalah soal literasi dalam arti sempit dan luas. Bagaimana kepekaan, ketajaman menemukan solusi dari tiap masalah. Literasi juga menyangkut soal minat baca yang saat ini cukup menggelisahkan. Harus diprogramkan oleh satuan pendidikan agar menyediakan bahan bacaan secara bertahap. Bahkan guru-guru membawa buku bacaan ke dalam kelas untuk menggoda selera siswa. Di website Raudlatul Iman, secara bergantian kita ramaikan dengan tulisan guru-guru, baik menu berita, artikel, sastra, jurnal peradaban dll. Nanti di setiap sudut gazebo Asoka, akan diadakan rak-rak yang berisi buku bacaan sebagai bagian dari program warles (warung literasi). Untuk kalangan santri akan dibentuk Komunitas Pegiat Literasi (KOMPLIT). Ini sejalan dengan program Smart Boarding School, karena saya merasa prihatin dengan situasi saat ini, bahwa peradaban akan meredup, jika generasi abai terhadap soal-soal yang saya sebut sebelumnya” urainya panjang lebar.

 

Merespon gagasan ketua yayasan, kepala satuan pendidikan menyambut baik dan mengapresiasinya dengan penuh keseriusan namun tetap cair dan santai. Dalam rapat itu juga dibahas soal-soal teknis di lembaga masing-masing dan inovasinya, menghadapi tapel baru yang tidak akan lama lagi akan masuk aktif. (MSA).

Bagikan ke :

Leave a Comment