Orang-Orang Berilmu Vs Orang-Orang Dungu : Sebuah Pernak-Pernik Perjuangan

 

(Muhammad Sahli Hamid)

Kesadaran selalu berangkat dari sebuah pemahaman yang benar. Kebenaran berpijak pada ilmu yang mendalam dipadu dengan pengalaman yang kemudian melahirkan sebuah refleksi atas sebuah peristiwa yang mengitarinya. Dari sebuah refleksi tersebut, seseorang akan mengambil hikmah atau pelajaran untuk berpikir, bersikap, berkata-kata dan bertindak dengan penuh kehati-hatian.

Kehati-hatian adalah ciri khas orang yang berilmu yang menjadikan setiap sepak terjangnya dilandasi rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut inilah kemudian tercermin dalam tindakannya dalam bentuk tinjauan memberi manfaat dan mudarat, mendapat pahala atau justru mendapat dosa, berpengaruh baik atau jelek, untung atau rugi, membahagiakan atau malah menyakiti dan sebagainya.

Berdasarkan prolog di atas, mari kita perhatikan Firman Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 9 sebagai berikut :

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ – ٩

“(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”

Mencermati ayat di atas, Allah SWT mengingatkan dan membuka kesadaran kita untuk selalu beribadah kepada Allah SWT karena rasa takut dan mengharapkan rahmat-Nya. Tentu orang yang beribadah mendasarkan diri pada ilmu. Ilmu yang dimiliki itulah, yang membedakan kualitas seseorang seseorang dengan yang lainnya serta dapat mengambil pelajaran dengan kemampuan akalnya.

Banyak dari kita yang hanya memahami sesuatu sepintas saja atau setengah-setengah atau bahkan tidak sama sekali. Ini tentu diakibatkan dari keengganan atau ketidakmampuannya untuk memahami lebih mendalam, sehingga akan bertindak dan berkata sesuai keinginannya, bukan atas dasar panduan dan pemahaman yang benar.

Ungkapan yang sering kita dengar, “Jika tidak bisa membangun maka jangan merobohkan”, “Jika tidak bisa mengharumkan, jangan membuat busuk”, “Jika tidak bisa menanam, jangan merusak tanaman”, ada relevansinya dengan kehidupan saat ini, di saat sebagian orang melakukan sesuatu atas dasar pengetahuannya, atau yang lebih tajam bertindak menurut egonya. Pemahaman yang benar akan melahirkan sikap yang benar dan sebaliknya, jika pemahaman kita salah, akan fatal akibatnya.

Dalam konteks ini, Aplikasi Asri dengan perjuangannya menanam bibit pohon dan berusaha membuat asri lingkungan, tapi di bagian lain ada sebagian orang yang mengganggunya dengan merusaknya atau mencabutnya dan sebagian lain tetap kebiasaannya mengotori lingkungan yang telah susah payah dibangun. Walaupun resiko sebuah perjuangan memang harus berkorban, baik tenaga, pikiran, biaya bahkan perasaan.

Sebagai contoh lain, dalam dunia pendidikan baik itu guru, dosen, ustadz dll, sesungguhnya mereka sedang memposisikan dirinya sebagai penerus risalah perjuangan Rasulullah SAW. Jika ini yang tertanam dalam bawah sadarnya, tentu mereka akan bertugas dengan sebaik-baiknya tanpa mengharapkan upah dari apa yang dilakukan. Di sisi lain, faktanya tidak sedikit dari pendidik yang merusak citra pendidikan yang seharusnya tidak terjadi. Dalam banyak kasus, ada pendidik yang melecehkan anak didiknya, bertindak kasar jauh dari sifat kerasulan.

Meski tugas yang dilakukan seorang pendidik sudah benar, tetapi banyak fihak yang kemudian mengkritiknya atau bahkan menyalahkannya (Madura : Tak nemmo bendher). Selain itu, juga ada orang lain yang mencoba menghalang-halangi, mengganggu, memfitnah dan mengerdilkan perannya sampai kepada titik terendah yaitu menyakiti fisiknya, seperti yang pernah dialami tokoh di beberapa tempat dari generasi ke generasi.

Fenomena di manapun, masih lebih banyak orang yang kurang peduli daripada yang peduli, masih lebih banyak yang miskin dari yang kaya dan seterusnya. Hal ini membuktikan, bahwa sebuah perjuangan akan sangat melelahkan dan banyak menguras energi. Tetapi bagi pejuang sejati, tidak akan pernah berhenti untuk terus mengawal visinya agar apa yang diimpikan menjadi sebuah kenyataan, sekalipun banyak rintangan yang menghadang.

Sungguhpun demikian, tidak mungkin suatu keinginan selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Di situlah sebenarnya dinamika dan irama perjuangan, tidak ada lain yang menjadi kegelisahan dari seorang yang punya pemahaman benar, kecuali jika banyak orang akan terbiasa memiliki pemahaman salah yang akan membuat daftar kesemrautan semakin panjang dan berlanjut kapanpun dan dimanapun berada.

Selama ruh kehidupan ini masih berdegup, selama itu pula masih akan ada tokoh protagonis (orang baik) di dalamnya. Dalam kutub yang berlawanan, tentu akan berdiri menantang tokoh antagonis (penjahat) untuk menggagalkan usahanya. Syetan dan sanak keluarganya, tidak akan pernah rela kebaikan didengungkan dan dipanggungkan.

Untuk itu, kesadaran kolektif dan pengetahuan serta pengalaman yang luas harus senantiasa ditunjukkan dan menjadi instrumen paling nyaring di ruang-ruang kehidupan. Ketawadhuan seorang berilmu sebagai sinyal keilmuannya, meski banyak orang yang mengganggunya. Bukanlah Rasulullah SAW, dicemooh, disakiti atau bahkan diusir dari kampung halamannya. Tetaplah bahagia, sekalipun sakit nyata adanya.

Lembah Mandala
06 Desember 2022

Bagikan ke :

Leave a Comment