Peradaban Manusia Ulul Albab dan Pelestarian Faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah : Sebuah Strategi Dakwah STIDAR

Oleh : Muhammad Sahli

 

Implementasi peradaban manusia dulu, kini dan yang akan datang tentu memiliki perbedaan yang mendasar, tergantung kemajuan ilmu yang dicapai oleh manusia dari zaman ke zaman. Semakin tinggi ilmu manusia, maka semakin maju pula peradaban yang dihasilkan dari berbagai sektor. Perkembangan keilmuan selalu berjalan seiring dengan kemampuan manusia merefleksikan dirinya sesuai ilmu yang dimiliki. Hasil dari refleksi itulah dapat menunjukkan kemajuan yang dicapai pada zamannya. Selaras dengan apa disampaikan oleh Arnold Toynbee, bahwa peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

Stempel STIDAR sebagai kampus peradaban dengan misi yang diusung adalah mencoba mentransformasikan nilai-nilai faham ahlussunnah waljamaah dibarengi i’tikad mendirikan An-Najmah Center yang merupakan pengejawantahan nilai-nilai utama Islamb yang dikoneksikan dengan kearifan lokal (local wisdom). Faham Ahlussunah wal Jamaah an-Nahdiyah sebagai brand Nahdlatul Ulama dengan komunitas pesantrennya yang didaulat sebagai penjaga kearifan lokal atau istilah trendnya ISLAM NUSANTARA, bukan saja mengangkat nilai tawar pesantren di kancah nasional, tetapi juga gaungnya merambah ke kancah internasional.

Maka kehadiran STIDAR yang lahir dan tumbuh dari rahim pesantren, tentu memiliki agenda besar sebagaimana tiga fungsi pendidikan pesantren, yakni : Pendidikan, Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat. Dari segi pendidikan, STIDAR ingin melahirkan ilmuwan yang saleh dengan integritas akademiknya, sedangkan dari sisi dakwah, STIDAR harus mampu menjadi model dakwah alternatif transformatif dan inovatif solutif bagi carut marutnya tatanan sosial masyarakat saat ini. Sedangkan dari perspektif pemberdayaan masyarakat, STIDAR ingin memposisikan diri dan ansih sebagai advokasi sosial dalam berbagai bentuknya.

Meneropong Manusia Ulul Albab

Ulul albab secara bahasa berasal dari dua kata: ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai’, sedang al albab mempunyai beragam arti. Kata ulul albab muncul sebanyak 16 kali dalam Alquran. Dalam terjemahan Indonesia, arti yang paling sering digunakan adalah ‘akal’. Karenanya, ulul albab sering diartikan dengan ‘yang mempunyai akal’ atau ‘orang yang berakal’. Al-albab berbentuk jama’ dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa ulul albab adalah orang yang memiliki otak berlapis-lapis alias otak yang tajam. Ulul albab memiliki beberapa arti, yang dikaitkan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), tilikan (insight), pemahaman (understanding), kebijaksanaan (wisdom).

Fungsi pendidikan STIDAR tidak boleh bergeser dari sebuah konsep ulul albab yang memiliki kesanggupan untuk mengawinkan proses fikir dan dzikir yang nanti akan melahirkan manusia yang memiliki kapasitas keilmuan dan integritas jiwa yang mencerahkan. Sebab menyilaturrahmikan hati dan pikiran akan melahirkan kelembutan.

Pelestarian An-Najmah dan Dakwah Ulul Albab

An-Najmah adalah singkatan dari ahlussunah wal jamaah ala STIDAR yang mengacu pada konsep Islam Rahmatan lil-Alamin yang salahsatu kegiatannya adalah menemukan kesamaan ideologi dalam banyak perbedaan. Gerakan dialogis konstruktif menjadi label utama ketika titik persamaan sulit ditemukan dan disatukan. Di samping itu mencoba membangkitkan ghiroh lokal yang telah ditelaah, kemudian menjadi formulasi baru dalam wajah yang lebih familiar. Selanjutnya, penerbitan buku-buku yang menggugah kesadaran beragama, berbangsa, bersastra dan menjunjung harkat kemanusiaan yang beragam.

Menelisik Islam sebagai agama dakwah mempunyai arti bahwa islam sangat peduli dan mencintai pemeluknya sebagai perwujudan dari rahman dan rahim-Nya. Maka di dalam Al-Qur’an tertera kalimat yang dicetak tebal yang merupakan tuntunan Dakwah Al-Qur’an :

Allah berfirman :
واليتلطف
“Dan bersikap lembutlah”
ادع الي سبيل ربك بالحكمة والموعظةالحسنة
“Tuntunlah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan peringatan yang baik (lembut)”

Kemudian Sabda Nabi SAW :

ان احسن الحسن خلق الحسن
“Sebagus-bagus kebaikan adalah perangai (watak, sikap) yang baik (lembut)”

Penting juga direnungkan dawuh salahsatu Pendiri Raudlatul Iman
الاحسان يستعبدالانسان
“Sikap lembut akan meluluhkan hati manusia”

Ada ungkapan : Cerdas itu kekuatan, santun itu kehormatan. Kecerdasan bukan diukur dari kepandaian bicara (retorika) tapi kepekaan terhadap berbagai situasi dan kondisi dan mampu menghadapinya dengan penuh ketenangan.

Tidak mungkin orang yang sadar dengan kehambaannya akan merugikan dirinya, pohon yang baik akan menumbuhkan daun-daun yang subur dan rindang serta buah yang manis. Demikian pula orang yang mulya akan melahirkan tutur kata, sikap dan tindakan yang mulya pula serta memberikan manfaat untuk orang lain. Dia tidak sempat mencari kelemahan orang lain, hanya fokus pada kelemahan sendiri. Seorang teman berkata : “jika kopi tidak manis jangan salahkan kopinya, karena rasa kita yang berbeda.”

Orang yang hatinya diliputi kasih sayang, tidak akan ada ruang untuk kebencian. Ia telah diangkat menjadi pengganti Tuhan yang sempurna di muka bumi, dan ia akan mendapatkan kasih-Nya dari atas langit. Insan Ulul Albab adalah mereka yang terus berbuat yang terbaik dan tidak terpengaruh dengan segala kondisi. Tapi mereka melihat dan mendengar dengan baik dan berusaha untuk terus belajar.

Ketika kita dilahirkan, berarti siap untuk hidup dan menghidupkan anugerah Allah dengan penuh suka cita. Kegembiraan terhadap hidup akan berusaha berbuat sebaik mungkin, sekalipun orang lain tdk mengapresiasinya. Toh ada Allah Sang Apresiator Sejati. Bersikap positif dan selalu optimis adalah energi Tuhan yang dipancarkan kepada orang-orang yang bersedia menjadi Hamba-Nya untuk mendapat keridhaan-Nya.

Intinya peradaban yang diusung STIDAR seperti umumnya nilai-nilai annajmah, yaitu apa yang dinyatakan GUS DUR :

“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil”

“Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci”

“Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih”

“Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat”

“Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina”

“Jika engkau tidak suka bersahabat, janganlah bermusuhan”

Karena dakwah itu didasari cinta, maka dakwah itu dilakukan dengan mengajak bukan mengejek, dengan mendidik bukan menghardik, menyayangi bukan menyaingi, menguatkan bukan melemahkan, menggembirakan bukan menyusahkan dan dengan empati bukan membenci.

Imam Abu Abdillah Al-Maziny

من لم ينظر للعصاۃ بعين الرحمۃ فقد خرج عن طريق الحق

“Barangsiapa yang tidak memandang orang lain yang maksiat dengan pandangan kasih sayang, ia telah keluar dari jalan Allah”

Nabi Isa AS yang dikutip Syekh Nawawi albantany dalam kitabnya :

تفسير مراح لبيد.ج:١ص:١٢٠
ليس الاحسان ان تحسن لمن احسن اليك ذلك مكافأۃ انما الاحسان ان تحسن الی من اساء اليك.

“Bukanlah kebaikan, jika engkau berbuat baik kepada orang yang baik padamu, karena hal itu sebagai balasan untuknya. Kebaikan yang sebenarnya adalah engkau berbuat baik pada orang yang jahat padamu.”

Dakwah Islam yang ingin diaktualisasikan di STIDAR, sudah barang tentu tidak lepas dari dua program studi yang dikelolanya yaitu Prodi PMI dan BKI, dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya adalah bagian dari pemberdayaan : pemberdayaan ruhani / batin (mental spiritual), dan pemberdayaan intelektual. Sedangkan pemberdayaan jasmani / finansial (dzahir)seperti pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan skill dll. Sebelum memberdayakan orang lain, diri kita yang harus diberdayakan terutama dalam hal ruhani. Selanjutnya kita akan menemukan sesuatu yang tak terkirakan sebelumnya. Sama halnya dengan Rasulullah SAW yang menata diri di keheningan Gua Khira sebelum membina masyarakat Mekkah.

Ke depan, perlu dirumuskan secara lebih spesifik untuk menggambarkan dan menghasilkan produk dan profil lulusan STIDAR yang dapat memberikan sumbangsih lebih banyak kepada masyarakatnya. Garapan khusus apa yang mesti mendapat perhatian lebih intens. Misal menguatkan karakter lokalnya, enterpreneurnya, ekologisnya, layanan terapisnya, literasinya atau kekuatan agamisnya. Perlu fokus sesuai tahapan dan bisa juga digarap secara bersama-sama. Dengan demikian kampus peradaban dengan insan ulul albabnya yang ber-annajmah menjadi opsi dakwah masa depan, tidak sekedar menjadi museum sejarah atau hanya menjadi stigma negatif sebagai kampus “penampungan” dan menghasilkan manusia “pengangguran” yang mudah masuk angin. Semoga saja tidak.

Bagikan ke :

Leave a Comment