STASIUN SOSIAL ASOKA : Menjemput Ekopesantren-Ekocampus, Menyambut Peradaban Baru Masyarakat

Oleh : Muhammad Sahli

Pondok pesantren sejak kelahirannya telah menegaskan diri sebagai lembaga swadaya masyarakat dalam pengertian luas yang hadir memberikan kontribusi bagi pengembangan masyarakat dan solusi dalam soal-soal keagamaan, kewirausahaan, bahkan soal isu-isu lingkungan dll.

Terkait soal terakhir, pesantren mungkin masih belum bisa berbuat banyak, karena selama ini pesantren masih dikesankan sebagai lembaga tradisional yang kumuh dan tidak peduli pada kebersihan dan keasrian. Barangkali inilah yang membuat pesantren belum bisa keluar dari kubangan negatif yang selama ini dilekatkan.

Tetapi seiring dengan perkembangan waktu, pesantren mulai berbenah dan mengubah paradigma untuk lebih intens memberikan contoh dalam soal lingkungan sebagai lembaga paling “bertanggung jawab” masalah-masalah ekologis. Alasan utama di pesantren selalu disuarakan bahwa kebersihan bagian dari iman. Lebih dari itu, agama Islam memberikan perhatian besar dalam soal keindahan.

Berpijak dari itu semua, Pondok Pesantren Raudlatul Iman sebagai salahsatu pesantren di Sumenep, ikut terpanggil dan berdiri di garda depan untuk menjadi pejuang lingkungan dengan berdirinya APLIKASI ASRI (Aktivis Pecinta Lingkungan Asri, Sehat dan Indah Aliansi Santri Raudlatul Iman) yang berkontribusi dalam merawat dan melestarikan lingkungan yang cukup memprihatinkan dengan mottonya MORNANG = Morka’ Raddhin Nyonar Ngornyang. Tidak berhenti di situ saja, PP Raudlatul Iman juga menginisiasi dan membidani kelahiran STASIUN SOSIAL ASOKA (SSA) yang kiprahnya lebih luas menyangkut keagamaan, budaya, pendidikan kearifan lokal, literasi, kewirausahaan dan dakwah ekologis dengan motto BERBUDAYA & BERJAYA.

Kehadiran Stasiun Sosial Asoka merupakan kreativititas dan inovasi serta menjadi ghiroh dan spirit baru bagi tumbuh kembangnya peradaban yang bercorak pesantren. Hal ini tak lepas dari visi besar jajaran pengasuh untuk mewujudkan Raudlatul Iman menjadi Ekopesantren-Ekocampus dalam konteks universal dan holistik yang mencerminkan watak kemaduraan dan keindonesiaan. Apalagi vitur-vitur yang ada di dalamnya dapat mendukung bagi restorasi peradaban yang mulai kehilangan jatidirinya.

Untuk menggagas visi mulia itu, maka Raudlatul Iman dalam waktu dekat akan menyelenggarakan even nasional berupa Gerakan Ramah Lingkungan (GRL) dengan tema “Gerakan Peradaban, Pemberdayaan Lingkungan” dengan rangkaian acara fenomenal aktual dan variatif rekreatif yang akan diakhiri RESEPSI PERADABAN dan akan dihadiri tokoh pesantren Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag. dari Bangka Belitung untuk memberikan pengajian kebudayaan. Acara ini juga disupport oleh organisasi di lingkungan Raudlatul Iman, seperti Aplikasi Asri, Media Center, Pandawa, Bem Stidar, dan OSIS.

Tentu perjuangan peradaban akan menghadapi tantangan besar yakni kekuatan badai tradisi negatif masyarakat yang telah mendarah daging, mengakar dan menjadi karakter. Tetapi dengan keyakinan, doa, produktivitas, dan upaya yang maksimal, ekopesantren akan menjadi gelombang besar yang akan menghadirkan peradaban baru di tengah-tengah masyarakat. Terlebih PP Raudlatul Iman mempunyai kampus STIDAR yang membranding dirinya sebagai kampus peradaban yang konsen pada pemberdayaan masyarakat.

Lampu Padam, 14 Pebruari 2023

Bagikan ke :

Leave a Comment