Ketika Sakit Ibu Melahirkan Tak Kunjung Hilang

Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan penungguan seorang ibu yang bayinya detik-detik tiba segera terlahir ke dunia. Betapa tidak waktu yang begitu lama teramat melelahkan, tapi keindahan telah menantinya dengan kehadiran seorang anak yang diimpikan. Rasa sakit itu, seakan berganti sejuknya harapan. Apapun yang dirasakannya bagian dari harmoni dan melodi yang membuatnya terus menyenandungkan bait-bait keceriaan.

Seorang ibu dengan kekuatan cintanya telah membuat jutaan atau bahkan milyaran anak menjadi kuat tegak berdiri di atas kerasnya tantangan. Airmata doanya serupa air jernih yang menumbuhkan bunga-bunga menebarkan wangi di sepanjang hari. Kekuatan pelukannya mampu merubah badai yang tersudut dalam kemesraan. Tatapan matanya adalah telaga jernih yang membasuh dan menyembuhkan luka-luka. Senyumnya laksana embun yang mengusir debu-debu kegelisahan, lalu menjelma matahari menghadirkan kehangatan.

Siapakah yang paling berdebar kencang jantungnya, ketika anak-anaknya terdengar membawa mahkota kerinduan untuk diselipkan di kepalanya. Siapakah orang yang tiba-tiba tak bergairah dan ingin menggantikan penderitaannya, ketika ia mendengar anaknya sakit atau menghadapi suatu masalah ? Siapa pula orang yang paling cemas dan gelisah menunggu anaknya belum pulang sambil mondar-mandir di halaman depan pintu rumah ? Tak ada orang lain yang bisa menutupi sakitnya dan berusaha kuat, meski sebetulnya ia dalam kondisi tak nyaman. Dialah seorang ibu yang tak henti-henti berdoa dan berharap untuk si buah hatinya.

Seorang ibu yang darinya mereguk air susu sedap yang tidak ada di dunia ini yang menyamai. Dari tetes keringatnya telah mengantarkan kita merasakan keindahan dunia. Dari pelukan hangat keridhaannya, pintu surga terbuka lebar menanti. Doa-doanya tak akan pernah tertolak melebihi dari seorang wali sekalipun. Kasih sayangnya tak ada satupun makhluk yang menandingi. Ia lebih indah dari terangnya purnama yang menggoda di malam gulita. Ketulusannya melampaui gairah bidadari dengan segala kecantikannya. Ia sedikit saja di bawah malaikat yang tak pernah menolak apapun kehendak anak-anaknya. Ia umpama mata air yang mengalirkan kesejukan dan menumbuhkan pohon-pohon inspirasi.

Tetapi, jika anak-anaknya telah mengotori kebeningan telaganya, ia seperti tak rela telah melahirkannya, ia menyesal berharap anaknya kembali ke dalam rahimnya atau bahkan mengimpikan mati lebih baik baginya. Tak ada sakit yang lebih sakit ketika ia harus melahirkan. Kecemasan yang berlapis-lapis dan bercabang-cabang, perihnya menjalar-jalar seperti akar yang mencari tempat untuk bersembunyi di teriknya matahari. Sakit yang sulit diobati, luka yang tak berdarah terus memenjarakan dan menyayat kesendiriannya.

Jika ada permata di dunia ini yang paling mahal sekalipun, hatinya melebihi permata atau mutiara intan berlian mutu manikam. Manisnya madu menjadi hambar, bila senyumnya mengumbar sungging kesetiaan. Aroma bunga mawar akan terdampar di tembok-tembok pagar, kala kelopak matanya terbuka lebar menghembuskan kerling kebahagiaan. Rumput yang hijau seakan meranggas tersudut dalam langkahnya yang membawa ketegaran. Tingginya gunung akan mudah rapuh, saat pelukannya mencengkram kuat mengangkut hasrat jauh di balik kesepian. Kerasnya gelombang tiba-tiba takluk dan tawar melawan tajam doa-doanya yang tak berujung. Semua beban menjadi ringan, ketika ia hadir dengan jari lentik mengelus-elus lembut penuh perhatian.

Tak ada kesepian melebihi ketidakhadirannya, tak ada kepedihan yang menyayat dalam raut mukanya yang muram. Langit seperti runtuh berserakan mengubur semua harapan, kala suaranya melawan ketidaksukaan. Keberanian adalah nyanyiannya, kuatnya pijakan cinta adalah pakaian terbaiknya. Maka jangan pernah melukainya dengan perilaku yang membuat sakitnya tak tak kunjung hilang, mengungguli sakitnya saat melahirkan.

Untuk engkau yang masih punya ibu, perlakukanlah sebagai bidadari yang sewaktu-waktu bisa pergi dan tak mungkin kembali lagi. Hidangkanlah segelas anggur pengabdian untuknya. Tapi bagi engkau yang ibunya telah menghadap Sang Ilahi, selipkanlah bunga-bunga doa untuk kebahagiannya sebagai bentuk bakti dan sedikit melunasi hutang-hutangmu saat ia merangkai mimpi, namun engkau seperti tak perduli. Allahummaghfir laha warhamha wa aafiha wa’fu anha waj’alil jannah ma’waaha, aamiin.

Muhammad Sahli
Refleksi Hari Ibu 22 Desember 2023

Bagikan ke :

Leave a Comment